.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Para Istri, Lakukan Hal-Hal Ini Pada Suami Anda


Yang paling sulit bagi seorang istri adalah dikecewakan atau disakiti oleh suami, orang terdekat yang seharusnya justru melindungi dan menjaga hati kita. Disakiti bicara tentang perkataan pedas, suami yang tidak bertanggung jawab, perselingkuhan, kecanduan pornografi, semaunya sendiri, tidak peduli, dll.

Serahkan Hak-Hak Anda Pada Tuhan
Sebagai istri kita berpikir punya hak untuk diperhatikan, dicukupi, diperlakukan dengan lembut, apalagi bila kita sudah berikan yang terbaik untuk merawat keluarga. Tetapi terlalu erat memegang “hak” akan menjadi “tuntutan.” Dan bila tuntutan tidak dipenuhi, kita marah.  Serahkan “hak” itu pada Tuhan, percaya bahwa Ia yang memelihara Anda.  Arahkan pengharapan Anda pada Tuhan, untuk mencukupi, menghibur dan menguatkan.  Kalau Anda memberikan tuntutan pada suami untuk memenuhi harapan Anda, Anda memberi tekanan besar padanya, dan membuat diri Anda mudah dikecewakan.  Percaya bahwa di atas suami, ada Tuhan yang lebih berkuasa, dan Anda meminta pada-Nya.  Tuhan tidak menterlatarkan orang-orang yang berharap pada-Nya.

Lakukan Yang Terbaik
Lakukan yang terbaik dan laksanakan tanggung jawab Anda dengan rajin, walaupun suami tidak melakukan bagiannya. Motivasi Anda adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan membesarkan anak-anak dengan baik.

Tidak Perlu "Take Over"
Bukan tugas Anda untuk mendidik dan mendisiplinkan suami, lalu menempatkan diri sebagai otoritas di atas suami (dominan).  Anda boleh dengan sopan mengingatkan, tapi bukan mengambil alih. Tugas Tuhan mendisiplinkan dia. Tugas Anda mendoakan dan memberi teladan dengan sikap & tingkah laku Anda.

Kepuasan 
Kadang kita jengkel tetapi kalau dipikir lagi, masih ada yang keadaannya jauh lebih buruk! Mengucap syukurlah pada Tuhan, dan jangan bandingkan dengan orang lain, karena biasanya kita membandingkan dengan yang di atas kita

Biarlah Istri Membuat Suaminya Senang Pulang Ke Rumah, Dan Biarlah Suami Membuat Istrinya Sedih Melihat Suaminya Pergi (Martin Luther)

Penulis : Esther Idayanti