.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Bijaksanalah Dalam Menerima Nasihat


Salah satu nasihat terbaik yang pernah saya terima adalah, “Jangan membanting pintu, supaya kalau nanti perlu lewat lagi, kita tidak malu. Karena kita tidak tahu kapan kita harus lewat situ lagi.” Maksudnya, jaga hubungan baik, termasuk dengan orang yang menyebalkan, supaya kalau suatu saat kita butuh dia, kita tidak malu. Sebab kita tidak tahu kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Masih banyak nasihat-nasihat lain yang diberikan pada saya. Ada nasihat yang baik ada yang tidak tepat.

Nasihat Yang Enak Belum Tentu Benar
Kalau sedang jengkel tingkat tinggi dengan pasangan, lalu teman-teman bersimpati dan berkata, “Kamu berhak bahagia, ceraikan saja.” Itu nasihat yang enak, tetapi tidak benar. Sebaliknya, nasihat dokter tidak enak, tapi baik bagi kita, “Jangan makan jeroan, tidak boleh makan es krim dan desert terlalu banyak, harus berolah raga, dll.”


Nasihat Ditimbang Dari Siapa Yang Memberikannya
Nasihat yang berbobot datang dari seseorang yang telah mengalaminya dan berhasil. Karena itu, bila kita ingin nasihat kita didengarkan oleh anak buah atau anak-anak kita, pastikan kita telah melakukannya. Sebaliknya, seorang komentator belum tentu jago bermain bola, ia hanya pintar berkomentar.

Nasihat Diukur Dari Asalnya
Setiap pendapat atau filosofi di dunia ini, bila disederhanakan dan ditarik akarnya berasal dari tiga hal: Tuhan, humanisme atau iblis.  Iblis berkata, “Lakukan yang jahat.” humanisme berkata, “Lakukan yang kau suka.” Tuhan berkata, “Lakukan yang benar.”  Periksa dan renungkan sumbernya, sebelum Anda melakukan nasihatnya. Kiranya kita bisa bijaksana memilah-milah mana nasihat yang benar

Banyak Orang Menerima Nasihat, Hanya Mereka Yang Bijaksana Bisa Mendapatkan Mamfaatnya (Publius Syrus)


Penulis : Esther Idayanti