.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Optimis Akan Membuat Sesuatu Lebih Menyenangkan


Banyak berita mengkhawatirkan dan menakutkan seperti pengeboman, kekerasan, krisis ekonomi, tsunami, pesawat jatuh dll.  Kita pikir, orang akan menjadi pesimis mendengarnya.  Tetapi nyatanya tidak juga. Walaupun menurut statistik di beberapa negara tingkat perceraian sudah mencapai 50%, orang tetap menikah juga.  Walaupun terdengar kabar krisis ekonomi dan pangan, orang tetap punya anak juga. Walaupun kerap terdengar pesawat jatuh, orang tetap naik pesawat juga.  Ternyata menurut penelitian, manusia cenderung untuk optimis karena telah tertanam sebagai proses natural dalam otak. Tanpa mekanisme ini, semua manusia akan terkena depresi ringan.

Menebus Waktu
Optimisme didapatkan karena kemampuan manusia membayangkan masa depan mereka. Orang-orang yang optimis lebih sehat, tenang dan berumur panjang. Mereka juga bekerja lebih lama dan mendapatkan penghasilan lebih besar.

Optimis Tapi Juga Realistis
Ada orang optimis yang kebablasan. Contohnya perokok berat yang tidak ada niat berhenti karena optimis bahwa mereka tidak akan kena kanker. Atau orang yang terlalu berani mengambil resiko investasi dan kurang perhitungan. Bagaimana kita bisa tetap optimis tetapi tetap menjaga diri agar tidak terbuai? Kuncinya adalah pengetahuan.  Ketika kita optimis, pada saat yang sama kita perlu mengerti bagaimana melindungi diri, karena manusia tidak dilahirkan dengan kemampuan otomatis mengerti “blind spot” mereka.  Jadi, kita percaya kita akan sehat-sehat saja, tetapi tidak ada salahnya ikut BPJS/ asuransi. Hari ini ramalan cuaca berkata matahari akan bersinar, tetapi boleh juga bawa payung untuk berjaga-jaga karena saat ini musim hujan. Kata Muh. Ali Jinnah, “Harapkan yang terbaik, persiapkan untuk yang terburuk.” Tetaplah optimis! 

Pada Akhirnya Orang Pesimis Mungkin Terbukti Benar, Tetapi Orang Optimis Memiliki Perjalanan Yang lebih Menyenangkan (Daniel L. Reardon) 

Penulis : Esther Idayanti