.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Pentingnya Lintas Generasi di Suatu Perusahaan


Sekitar 60% manajer personalia dari perusahaan besar mengatakan bahwa mereka melihat adanya konflik karena perbedaan generasi (Society of Human Resource Management). Perbedaan generasi ini perlu ditangani karena kalau pemimpin tidak mengerti apa yang penting bagi tiap generasi bagaimana ia bisa berkomunikasi dan memotivasi dengan efektif?  Walaupun bisa menyulut konflik, perbedaan generasi bisa juga menjadi kekuatan.

1. Pengalaman dan Keberanian
Generasi tua memiliki banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan oleh generasi muda dalam sebuah kursus atau kuliah selama beberapa tahun.  Walaupun tidak punya banyak pengalaman, generasi muda memiliki keberanian yang besar  (contohnya berani mengambil resiko). Bila generasi muda mau MENDENGARKAN dan generasi tua bersedia MEMBERI KESEMPATAN, konflik bisa dihindarkan dan sinergi bisa tercapai.

2. Keteraturan dan Kreativitas
Generasi tua cenderung lebih teratur dalam bekerja, contohnya: masuk pagi pulang malam, meeting formal, dll.  Tetapi generasi yang baru kadang menganggap hal itu kaku. Mereka ingin kebebasan menciptakan jadual mereka sendiri, mengatur cara kerja mereka, pokoknya pekerjaan selesai. Kantor idaman mereka seperti kantor Google di mana mereka bisa meeting sambil main bowling atau tidur sebentar di kursi tidur. Generasi tua perlu lebih FLEKSIBEL DAN TERBUKA dengan ide baru. Tetapi generasi muda perlu belajar KETAATAN DAN DISIPLIN, karena bagaimana pun juga perlu keteraturan untuk mencapai tujuan bersama.

3. Respek
Generasi saat ini dibesarkan oleh internet dan televisi. Mereka tidak bergantung pada orang tua dan guru untuk memberi informasi dan mengajar mereka. Tidak heran mereka mengambil sikap lebih bebas, kadang dianggap kurang sopan pada generasi tua. RESPEK merupakan nilai wajib dalam budaya perusahaan, dan MENTORING menolong kedua generasi saling memahami (EI)


Kita Perlu Mengingat Lintas Generasi Bahwa Banyak Hal yang Bisa di pelajari Bukan Hanya Diajarkan (Gloria Steinem)

Penulis : Esther Idayanti