Berpikir Sebelum Anda Baca, Baca Sebelum Anda Berpikir


Ada orang pintar tapi bodoh.  Mana bisa? Pintar atau bodoh, tidak bisa keduanya. Ternyata ada, dan tidak sedikit jumlahnya. Mereka lulusan universitas ternama, menduduki jabatan tinggi, tetapi tidak menggunakan otaknya untuk memproses hal-hal dengan logis. Mereka menelan mentah-mentah apa yang diajarkan padanya, dikatakan oleh idolanya, disebarkan oleh partai, dimuat di sosial media atau ditayangkan di televisi. Namanya pembodohan orang pintar.
Contohnya, Nazi.  Heran sekali, mereka percaya saja apa yang dikatakan oleh Hitler.  Hitler berkata, “Kalau kamu mengatakan kebohongan yang besar, dan mengatakannya cukup sering, maka orang akan percaya.” 

Kita dibodohi ketika percaya bahwa untuk bisa hidup damai maka orang yang berbeda (agama, suku, ras) dengan kita harus disingkirkan. Mereka menjelek-jelekkan orang yang beragama lain, suku lain, lalu mengumumkannya di media, bahkan melalui corong politik. Namanya damai itu bila seseorang bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan dia. Kalau semua orang sama dan “nurut” sama kita, orang bodoh juga bisa melakukannya.

Kita dibodohi ketika ikut menyebarkan kebencian, padahal yang terlibat konflik bukan ayah, om, keponakan, tetapi orang yang tidak kita kenal di ujung pulau sana. Ikut campur urusan yang sebenarnya belum jelas. Ikut demo karena kelihatan keren, membela seseorang. Orang bodoh tertelan oleh emosinya, tertutup oleh label kelompoknya, tidak bisa menghargai sesuatu yang lebih luas, dan berpikir tujuan yang lebih dalam.

“Masalahnya dengan dunia ini adalah, orang yang pandai penuh dengan keraguan, sementara mereka yang bodoh penuh dengan keyakinan diri.”  Orang bodoh berkoar-koar, orang pintar tidak mau repot bicara karena malas membuang tenaga.  Makanya, saya himbau orang pintar bukan cuma minum Tolak Angin, tetapi juga tolak pembodohan (EI)

Penulis : Ester Idayanti
image : kompasiana.com