.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Cerita Inspirasi Tentang Kehidupan bukan kamu semata tapi tentang Tuhan


Disiniajatempatnya, Cerita Inspirasi Kali ini tentang Kehidupan bukan Hanya kamu semata melainkan tentang Tuhan. Sungguh mengejutkan, Robin Williams yang hidupnya penuh tawa meninggal bunuh diri. Seorang aktor menulis bahwa Robin “full of life”, tetapi kenyataannya tidak demikian. Bermacam-macam alasan mengapa orang bunuh diri: depresi, kehilangan harapan, merasa orang lain bisa lebih baik tanpa mereka, ancaman impulsif (“kalau kau putuskan hubungan, aku bunuh diri.”) Sebenarnya tujuan akhir mereka bukanlah mengakhiri hidup, tetapi mengakhiri penderitaan.

Tetapi apakah bunuh diri menyelesaikan masalah? Bagi yang ditinggalkan, bunuh diri memberi masalah berkepanjangan. Bagaimana perasaan pasangan, anak, orang tua yang ditinggalkan? Seumur hidup mereka bertanya-tanya, mengapa hal ini terjadi, mengapa mereka tidak mencegahnya, apakah mereka tidak cukup berharga bagi orang tersebut untuk mempertahankan hidupnya?  Ada juga yang marah karena menganggap orang yang bunuh diri sangat egois, hanya memikirkan dirinya. Kepedihan, kebingungan, kemarahan, yang dialami sangat mendalam.

Seseorang pernah berkata pada saya bahwa ia ingin mati saja. Saya hanya bisa bertanya, “Apakah sudah tahu pasti kamu akan berada di mana setelah itu?” Apakah mereka yang bunuh diri masuk surga? Hanya Tuhan yang tahu dan berhak menjawab.
Tetapi dalam kitab suci memang ada perintah jelas, “Jangan membunuh,” kemungkinan besar termasuk jangan membunuh diri sendiri. Memang tidak mudah menjawab bagaimana dengan mereka yang sakit parah/sakit mental dan ingin mengakhirinya? Dua hal yang pasti, pertama, hidup ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan, sang pemberi nyawa.

Manusia tidak memiliki hak atas nyawanya, jadi sebelum Tuhan memutuskan untuk memanggil kita pulang, kita perlu bertahan. Kedua, ingat janji-Nya, sekalipun kita melalui lembah bayang-bayang maut, Tuhan ada di sana bersama kita untuk menghibur. Kehidupan manusia sangat berharga karena berasal dari Dia. “Kebahagiaan” bukanlah tujuan akhir, melainkan hidup penuh arti, pertumbuhan dan dedikasi bagi Dia (EI)

Penulis : Esther Idayanti