Mencoblos Bukan Hanya Memilih Presiden tapi Memilih Masa Depan Kita


Pilih presiden seperti pilih suami, bukan pilih pacar. Bedanya:

Kalo pilih pacar, cewe kadang pilih tampang, bisa buat pamer sana sini. Tapi pilih suami harus yang bertanggung jawab. Kalo ganteng doang, keluarga mau dikasi makan apa? Pilih presiden juga bukan urusan tampang ganteng dan gagah, tapi seseorang yang bertanggung jawab terhadap komunitas yang paling kecil (keluarganya), yang sedang (para pegawai di perusahaannya) bahkan komunitas yang besar (masyarakat). Kalau tanggung jawab kecil saja tidak bisa diselesaikan, jangan harap bisa bertanggung jawab untuk urusan yang lebih besar.

Kalau status masih pacar, kadang kita suka diboongin alias rayuan gombal. Tapi pilih suami harus yang jujur dari awal, masa mau diboongin terus sampai tua? Masa kampanye ini capres sering lontarkan rayuan gombal, harap maklum, masa pacaran. Tapi jangan sampai kita diboongin. Caranya: cek apakah dia bicara konsisten dari dulu? Lihat rekaman wawancara, baca berita koran, lihat prestasinya. Apakah dia konsisten? Atau sebentar bilang A, habis itu bilang B, lalu bilang C karena dia butuh dukungan tertentu? Apakah yang ia katakan sejalan dengan yang ia lakukan (integritas)?

Pacar suka egois, minta diperhatikan melulu. Cari suami jangan yang egois, tapi yang mengayomi dan melayani keluarga. Capres yang egois pokoknya mau menang lalu menghalalkan segala cara, seperti memalsukan survey, kampanye hitam, dll. Tapi kalau sudah terpilih, memangnya dia akan perhatikan rakyat? Gak juga, soalnya dia mau menang, bukan mau melayani rakyat. Pilihlah presiden yang sudah terbukti berkarya untuk rakyatnya.

Jangan golput, doakan pilihan Anda mulai sekarang. Ikut mencoblos adalah komitmen kita untuk bangsa ini (EI).

Penulis : Esther Idayanti