Kampanye Hitam


Sering kita dengar kampanye hitam, yaitu usaha untuk menjelek-jelekkan para capres, entah itu benar atau fitnah. Jangankan capres, banyak hal di dunia ini yang memang bisa dikritik, dari pemerintahan yang tidak becus, atasan yang cuek, staf yang lelet, teman yang pelit, dll. Kalau tidak menjaga diri, kita bisa hanyut dalam budaya mengkritik dan menjelek-jelekkan orang/hal lain.

KRITIK MENYATUKAN. Aneh tapi nyata, orang saling berkelompok berdasarkan apa yang mereka kritik dan benci. Seolah Anda berbagi pandangan dan nasib yang sama. Tetapi sebaliknya, orang yang bersifat positif dan optimis juga membuat kelompok, dan biasanya mereka jauh lebih maju. Jadi lebih baik Anda pindah kelompok segera.

KRITIK MEMBUAT ANDA TAMPAK “LEBIH PINTAR.” Menjelek-jelekkan orang lain/ sistem tertentu sepertinya membuat seseorang nampak lebih pintar, karena ia dipandang lebih tahu. Kritik membuat orang lain lebih rendah dari Anda. Tidak heran beberapa orang yang insecure (tidak aman, kurang percaya diri) kerjanya mengkritik dan mencela melulu! Sebetulnya, kalau Anda memang benar-benar lebih pintar, Anda punya kewajiban untuk membantu, bukan sekedar mengkritik. Seperti kata Abraham Lincoln, “Hanya orang yang punya hati untuk membantu yang memiliki hak untuk mengkritik.”

KRITIK UNTUK MEMBANGUN. Kritik yang disampaikan dengan motivasi, cara, waktu, pernyataan yang tepat memang bisa membangun. Tidak untuk menyakiti atau merendahkan, melainkan seperti “coach” memberi koreksi tanpa menyebabkan penolakan. Tetapi sebenarnya pujian dan dorongan lebih memotivasi. Daisaku Ikeda berkata “Lebih berharga untuk mencari kekuatan di orang lain. Anda tidak mendapatkan hasil apapun dengan cara mengkritik ketidaksempurnaan mereka.”(EI)

Kritik, Seperti Hujan, Harus Cukup lembut untuk menumbuhkan Seseorang Tanpa Menghancurkan Akarnya. (Frank A. Clark) 

Penulis : Esther Idayanti
Image : kaskus