.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Anak Atau Pegawai



Hubungan Anda dengan Tuhan sedikit banyak dipengaruhi oleh cara pandang Anda tentang posisi Anda di hadapan-Nya. Ada orang yang bersikap sebagai seorang pegawai, dan ada yang mengambil posisi sebagai seorang anak. Apa bedanya?

COST AND BENEFIT. Seorang pegawai selalu melakukan perhitungan dengan tuannya, “Kalau saya kerja sekian jam, dapat gaji berapa?” “Kalau saya berikan ini, apa yang saya dapatkan?” Dedikasi seorang pegawai hanya sejauh gajinya. Demikian pula orang yang menganggap dirinya bekerja untuk Tuhan, sebagai seorang pegawai, ia berharap upah yang sesuai pengorbanannya, “Saya sudah beramal sekian banyak, mengapa bisnis saya belum maju juga?” Yang lain berkata, “Saya sudah berdoa sekian lama, mengapa tidak ada jawaban?” Atau, “Saya sudah ikut Tuhan dengan setia, mengapa orang lain yang tidak peduli pada-Nya justru lebih makmur?”  Seolah, Tuhan wajib membayar kita atas “kerja” kita mengikut Dia, beribadah, atau beramal.  Sebaliknya, seorang anak melakukan pekerjaan bukan karena bayaran, melainkan karena cinta dan pengabdian untuk ayahnya demi kemajuan perusahaan keluarga. Ia rela bekerja hingga jauh malam, bekerja lebih keras dari yang lain.  Ia tidak bertanya, “Mana upahku?” karena ia tahu bahwa ayahnya telah menyediakan semua kebutuhannya dan menjamin hidupnya, bahkan sejak ia lahir. Apa yang Tuhan telah berikan, jauh melebihi apa yang bisa kita persembahkan kembali kepada-Nya. Bahkan bila Ia tidak melakukan apapun bagi kita, contohnya mengabulkan doa kita, kita masih berhutang kepada-Nya.

WORK VS. RELATIONSHIP. Seorang pegawai fokus pada “melakukan tugas” untuk tuannya, tetapi seorang anak fokus pada “hubungan kasih” dengan ayahnya. Saat Anda berdoa/beribadah, apakah Anda sekedar melakukan tugas dan memenuhi kewajiban, atau Anda mengambil waktu untuk mengenal dan mengasihi-Nya? (EI)

Berusaha Bekerja Untuk Tuhan Tanpa menyembah Tuhan Menghasilkan Kehidupan Yang kering, Tanpa suka cita

Penulis : Esther Idayanti
Image : lipdub.eu