Semua Orang Melakukannya


“Apa yang Anda lihat di Wall Street sangat memuakkan,” kata pendiri Vanguard Group, John Bogle. Menurut Bogle yang sudah 60 tahun berkecimpung di Wall Street, beberapa tahun lalu, ada hal-hal yang seseorang tidak akan lakukan. Tapi kemudian berkembang menjadi relativisme moral, “Kalau semua orang melakukannya, saya boleh melakukannya juga.”  Bukankah alasan ini sering kita dengar, bahkan kadang kita gunakan?

BERUBAH BERDASARKAN JUMLAH?
Penalaran di atas berkata bahwa bila semakin banyak jumlah orang yang melakukannya, suatu hal menjadi lebih etis/benar. Tetapi sebenarnya, orang yang melontarkan perkataan ini bukan meyakini bahwa sesuatu yang diperbuatnya benar, melainkan mereka tidak seharusnya dihukum, karena banyak orang lain luput dari hukuman. Ia hanya mencari alasan untuk melakukan apa yang ia inginkan.

KEHILANGAN KESEMPATAN? 
Rasionalisasi selanjutnya, “Bila saya tidak melakukannya, toh hal ini akan terjadi, karena orang lain akan melakukannya juga.” Mereka anggap, bahwa mau tidak mau kerusakan akan terjadi, jadi apa bedanya bila ia atau orang lain yang melakukannya. Lebih baik ia mengambil kesempatan itu.  Alasan yang egois. Tapi tidak semua orang demikian. Elliot Richardson diperintahkan oleh Richard Nixon untuk memecat Archibald Cox, jaksa kasus Watergate, kasus yang melibatkan Nixon. Elliot menolak dan mengundurkan diri. Memang akhirnya Archibald Cox dipecat (oleh orang lain), tetapi keberanian Elliot membuat pandangan publik tentang kasus Watergate berubah.

SAYA BUKAN “SEMUA ORANG”
Bila memang semua orang melakukannya, Anda tidak perlu termasuk kategori mereka. Tanyakan: apakah hal itu etis dan tidak melanggar hukum? Apakah Anda membuat keputusan sesuai nilai kebenaran? Apakah saat Anda berdoa, Anda bisa yakin bahwa tidak ada perasaan bersalah yang menjauhkan Anda dari Tuhan? (EI).

HANYA KARENA “SEMUA ORANG MELAKUKANNYA”, TIDAK MEMBUAT SUATU HAL MENJADI BENAR, BERMORAL DAN ETIS 


Penulis : Esther Idayanti
Image : waitbutwhy