Keputusan atau Perasaan ?


“Mencintaimu... seumur hidupku,” demikian lagu yang dipopulerkan oleh Kris Dayanti. Kenyataannya, menyanyikan lagu itu jauh lebih mudah daripada mempraktekkannya dalam pernikahan kita.  Tetapi ada satu cara yang terbukti bisa membuat Anda berhasil, yaitu membuat cinta Anda sebagai KEPUTUSAN, bukan PERASAAN.

(1) Bila cinta adalah perasaan, saya tidak tahu apakah besok saya akan mencintaimu atau tidak, karena saya tidak bisa memprediksi perasaan saya esok hari. Tetapi bila cinta adalah sebuah keputusan, saya pasti mencintaimu esok hari, karena saya berkuasa penuh atas keputusan saya. Dengan yakin 100% saya akan mencintaimu, karena saya telah memutuskan hal itu waktu kita menikah dulu.

(2) Bila cinta adalah perasaan, saya tidak tahu seberapa besar cintaku padamu, apakah besok kita akan “hot” atau “cold.”  Tetapi bila cinta adalah keputusan, dalam situasi apapun, saya akan tetap melayanimu, mendukungmu, mendoakanmu.

(3) Bila cinta adalah perasaan tertarik, dulu ia merasa dag dig dug dan “jatuh cinta” pada saya saat saya muda, cantik dan langsing, tetapi bagaimana bila saya nanti berusia setengah abad?  Sulit bagi saya untuk percaya pada seseorang yang mendasarkan cinta atas perasaannya semata, bukan berdasarkan keputusan dan komitmennya.

Bukan hanya dalam pernikahan saja, Anda bisa mempraktekkan hal ini untuk hubungan dengan orang lain di kantor, dengan tetangga, dll. Tidak perlu “feel good” untuk mencintai tetangga Anda atau berbuat baik pada orang yang melukai Anda. Cinta berdasarkan keputusan adalah seperti cinta seorang calon ibu. Ia telah memutuskan untuk mencintai anaknya seumur hidupnya, bahkan sebelum melihat bayi itu (EI).

CINTA BUKAN SEKEDAR PERASAAN, TETAPI KOMITMEN TANPA SYARAT.  MENCINTAI SESEORANG ADALAH SEBUAH KEPUTUSAN DAN JANJI (Unknown) 

Penulis : Esther Idayanti
image : krfcss.com