Kekayaan, Jabatan, Dan Kekuasaan


Urusan capres dan koalisi partai sedang hangat-hangatnya dibahas di televisi, koran dan media sosial. Saya perhatikan ada seorang pemimpin yang pindah partai seperti pindah bus kota, sebentar ke jurusan ini, sebentar ikut jurusan itu. Sepertinya ia mencari posisi dan kekuasaan, lebih dari mengejar prinsip/idealismenya.  Ia berjuang dengan cara apapun juga demi mendapatkan kursi kepemimpinan, padahal pengabdiannya pada masyarakat juga tidak jelas. Mungkin ia lupa, bahwa posisi adalah tanggung jawab, bukan sekedar “priviledge.”  Dan kekuasaan sebenarnya adalah “service”.  Tiga hal yang sering disalahmengertikan oleh pemimpin:

KEKAYAAN adalah tanggung jawab untuk membuat orang lain lebih sejahtera. Bila Anda menerima lebih dari yang lain, Anda perlu bertanya pada Tuhan, sang pemberi kekayaan, untuk apa dan untuk siapa kekayaan yang Ia titipkan pada Anda.  Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.

JABATAN adalah kesempatan untuk memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di bawah kita.  Merupakan tugas Anda untuk berbicara bagi mereka yang tidak didengar suaranya.  Selain itu, Anda diletakkan di panggung untuk dilihat dan diteladani semua orang. Karena itu, Anda memiliki tanggung jawab yang besar untuk hidup benar dan membangun karakter yang unggul, to live beyond reproach.

KEKUASAAN adalah sebuah tugas untuk melayani orang banyak.  Makin besar kekuasaan Anda, makin besar dan luas dampak keputusan Anda.  Jadi Anda harus mempertimbangkan kehidupan orang-orang yang akan terkena dampaknya. Hidup Anda untuk melayani mereka dengan cara mengesampingkan kepentingan pribadi Anda (EI).

TIDAK ADA YANG LEBIH BERBAHAYA DARI PADA PEMIMPIN YANG KEHILANGAN TUJUANNYA YANG SEJATI, YAITU UNTUK MELAYANI SESUATU YANG LEBIH BESAR DARI DIRINYA (Mike Myatt) 

Penulis : Esther Idayanti
image : syuhadabaharudin.com