Efek Psikologi Tentang Kebencian


Peristiwa penyerangan umat yang sedang beribadah di DIY barusan, membuat saya berpikir bagaimana orang bisa memiliki kebencian sebesar itu hingga menyerang orang lain yang tidak sedang mengancam atau menyerangnya.

LESS THAN HUMAN. Hitler menghabisi orang Yahudi karena menganggap mereka bukan manusia bermatabat. Suku Hutu membunuh 1 juta suku Tutsi di Rwanda karena menganggap mereka kecoa yang harus dibasmi. Para pembenci ini tidak menganggap orang yang diserang sebagai "sesama manusia" melainkan barang, ideologi, atau sedikit lebih rendah dari manusia (dehumanization). Kalau saja orang bisa menganggap orang lain yang berbeda adalah ciptaan Tuhan, sama seperti mereka, mungkin mereka tidak akan semena-mena.

INSECURITY.  Kebencian adalah dampak dari rasa tidak aman, tidak pasti, kekhawatiran, ketidakstabilan. Seseorang menyerang karena "insecure", ia tidak yakin bahwa ia berada di posisi yang aman. Karena itu biasanya "hater" tidak bertindak sendirian, ia menghasut massa untuk menjadi "hater" sehingga harga dirinya bertambah dengan "approval" dari orang lain. Mereka merendahkan kelompok lain supaya merasa dirinya tinggi. Dan pada akhirnya, mereka menganggap dirinya berkuasa atas nasib/hidup matinya orang lain, mendekati fungsi Tuhan.

SELF RIGHTEOUS. Haters merasa dirinya paling benar, orang lain salah/sesat, karena itu perlu dipaksa untuk benar atau disingkirkan agar tidak mencemari kemurnian. Para "haters" bukan cuma ada di DIY, ada juga di kantor dll, dengan ciri yang mirip.

KASIH KARUNIA adalah jawaban untuk para "haters." Kalau kita bisa merasakan kasih Tuhan yang mengampuni, mencintai, dan menerima kita, bahkan saat kita masih berdosa, maka kita bisa menerima orang lain. Kita tidak lebih baik dari mereka, sama-sama orang yang membutuhkan pengampunan dan kasih-Nya (EI)

SAYA MEMUTUSKAN UNTUK TETAP MENGASIHI... KEBENCIAN ADALAH BEBAN YANG TERLALU BESAR UNTUK DITANGGUNG (Martin Luther King, Jr.) 

Penulis : Esther Idayanti
image : hidupkatolik