Pekerjaan dan Keseimbangan Hidup.

WORK & LIFE BALANCE

Di zaman yang super sibuk dengan persaingan ketat ini, pertanyaan yang sering ditanyakan orang adalah “Bagaimana memaksimalkan produktivitas dan kebahagiaan hidup secara bersamaan?” Orang berharap bisa produktif dengan bekerja super keras, tetapi kehilangan kebahagiaannya karena stress.

Google mengadakan penelitian di kantor mereka, dan menemukan bahwa hanya ada 31% orang yang bisa memisahkan antara stres pekerjaan dan kehidupan mereka. Orang tipe ini disebut “segmentors.” Tidak peduli deadlines yang mengejar dan ratusan email yang menunggu, mereka dapat tidur nyenyak. Sebaliknya, sisanya 69% adalah “integrators” selalu dibayang-bayangi oleh pekerjaan. Mereka senantiasa mengecek email masuk dan pekerjaan baru yang menunggu, “Sulit untuk mengatakan di titik mana pekerjaan saya berakhir dan kehidupan non-pekerjaan saya dimulai,” kata salah satu dari mereka.

Bagi para “integrator”, sadari kecenderungan Anda, dan berusahalah memisahkan pekerjaan dan kehidupan. Di kantor Google di Dublin, ada program “Dublin goes dark,” di mana karyawan diminta meninggalkan peralatan mereka di meja depan sebelum pulang kantor. Tips lain adalah: miliki definisi “sukses” yang sejati (bukan hanya pekerjaan, tetapi seluruh aspek kehidupan, termasuk keluarga), sengaja jadualkan waktu istirahat dan cuti dalam agenda Anda, fokus pada hal yang penting dan delegasikan hal lain (EI).

KESEIMBANGAN BUKANLAH MANAJEMEN WAKTU, TETAPI MANAJEMEN BATASAN YANG LEBIH BAIK. KESEIMBANGAN BERARTI MEMBUAT PILIHAN-PILIHAN DAN MENIKMATI PILIHAN ITU (Betsy Jacobson)

Penulis : Esther Idayanti
image via thecareermuse.co.in