Kambing hitam

image via dianneguthmuller.com

Kasihan betul si kambing hitam, ia selalu disebut-sebut kalau ada masalah. Kena damprat saat boss kesal, padahal bukan ia yang melakukannya. Kena marah saat pasangan emosi, padahal bukan salahnya. Kena omel orang tua, padahal tidak ada hubungannya. Memang tidak enak jadi kambing hitam. Tapi mau bagaimana lagi, soalnya beberapa orang memang butuh kambing hitam karena mereka kurang kuat menahan emosi dan tanggung jawab yang seharusnya memang menjadi bagian mereka.

BILA ANDA JADI KAMBING HITAM, tidak perlu repot ke salon cat rambut jadi pirang, cukup ganti suasana. Tinggalkan sebentar meja kerja untuk ngopi, atau tinggalkan sebentar masalah itu untuk bermain dengan anak, lalu kembali ke kesibukan semula. Katakan pada diri Anda, bahwa memang itu bukan salah Anda. Jangan mau menerima "sampah" orang lain. Jangan masukkan dalam hati dan pikiran. Tapi juga tidak perlu sakit hati atau membalas, karena membuat keadaan bertambah buruk. Tidak fair? Memang. Tapi apa sih di dunia ini yang "fair"? Kita juga kerap bersalah soal hal ini, tak ada yang terkecuali.

BILA ANDA MENCARI KAMBING HITAM, berhati-hatilah karena menyalahkan orang lain merusak hubungan. Menurut psikolog Dr. Tom Jordan, mempersalahkan orang lain adalah sebuah betuk "emotional abuse." Orang yang selalu dipersalahkan lama-lama percaya bahwa memang ia bertanggung jawab, lalu merasa rendah diri, lalu menjauh dari hubungan itu, dan bisa berakibat kepahitan dalam hati.

Saling mempersalahkan justru tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya bila masing-masing pihak mengambil tanggung jawab, berusaha berkomunikasi tanpa saling menyerang, dan fokus pada mencari solusi, maka bukan hanya masalah selesai lebih cepat, tetapi hubungan akan terbangun dengan sehat (EI).

WHEN YOU BLAME OTHERS, YOU GIVE UP YOUR POWER TO CHANGE (Robert Anthony) 


Penulis : Esther Idayanti