Bertahan Dalam Pernikahan Yang Semu


Di hari pernikahan kita bermimpi “happily ever after”. Tiba-tiba kita terbangun dan ternyata pernikahan ini tidak seindah kisah Cinderella: suami tidak memberi nafkah, perselingkuhan beruntun, isteri mengontrol, kecanduan belanja dll. Timbul pertanyaan, “Mengapa harus dipertahankan?”

BUKANKAH TUHAN INGIN SAYA BERBAHAGIA? 
Kebahagiaan menjadi tujuan utama manusia. Memang Tuhan ingin Anda bahagia, tetapi Ia juga ingin Anda hidup dalam kebenaran, yang kadang mengorbankan kebahagiaan demi kebaikan yang lebih tinggi. Mungkin kita berpikir apa ada hal positif yang bisa timbul dari hal ini? Pikiran manusia terbatas, tetapi Tuhan sanggup membuat segala sesuatu bekerja bagi kebaikan pada akhirnya.

MEMBANGUN KARAKTER ILAHI.
Mempertahankan pernikahan tidak mudah. Anda perlu mengalah, sabar, tetap mengasihi dan memerhatikan pasangan walaupun ia tidak lakukan hal yang sama pada Anda. Bila Anda konsisten, Anda akan timbul sebagai seseorang dengan karakter yang teruji.

PENDERITAAN MEMBAWA KITA LEBIH DEKAT PADA TUHAN, karena Ia menjadi satu-satunya yang dapat kita harapkan.

MENOLONG ANAK ANDA. 
Orang tua yang bercerai memberi kesan pada anak-anaknya bahwa bila sesuatu terlalu sulit untuk dipertahankan, maka berhenti jadi pilihannya. Mereka cenderung melakukan yang sama. Sebaliknya, bila Anda bertahan, anak-anak akan belajar menyelesaikan konflik, tetap positif dan berjuang dalam pernikahan mereka kelak.

SEBUAH CONTOH. 
Ada seorang isteri yang telah diselingkuhi terang-terangan oleh suaminya dan dipermalukan ketika seluruh kota mengetahuinya. Tetapi ketika di masa tua sang suami terbaring tak berdaya di RS selama berbulan-bulan, sang isteri setia mendampingi. Tidak ada kata lain selain “respek.” Ibu ini telah memegang komitmennya. Ia menjadi gambaran kesetiaan Tuhan, yang tetap menanti manusia yang berdosa untuk kembali kepada-Nya. Bila ini terjadi, tidak sia-sia bertahan dalam pernikahan yang semu (EI)

TRUE LOVE NEVER GIVE UP
Penulis : Esther Idayanti
image : townofstmarys