.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Kisah sukses. Pasangan pasutri jualan dawet di medan omzet 20jt/ bulan

Es dawet ayu ternyata tak hanya populer di Pulau Jawa. Minuman segar khas Banjarnegara, Jawa Tengah ini justru populer di Medan, Sumatera Utara.
Berkat keuletan pasangan suami istri (pasutri) asal Medan, es dawet tak sulit ditemukan di Medan, Sumatera Utara.
Adalah, Citra Puspasari lulusan Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, bersama suaminya tekun menjalankan bisnis yang ia beri nama 'Dawet Cah Mbanjar', hingga punya omzet Rp 15 juta per bulan.
"Bisnis dawet Mbanjar ini dirintis oleh saya dan suami saya. Pada awalnya suami saya kerja di PBB yang bertugas di Aceh. Kemudian karena melihat ada peluang untuk usaha akhirnya suami saya keluar dari kerja," kata Citra kepada detikFinance, di sela-sela pameran wirausaha muda mandiri di Istora, Senayan, Jumat (17/1/2014)
Citra menceritakan awal kisahnya di Medan, melihat seorang penjual es dawet yang laris manis. Hal ini karena masih jarang yang berjualan es dawet di Medan.
"Melihat peluang inu suami saya berhenti kerja dan langsung mengajak kemitraan dengan bapak penjual dawet tadi," katanya.
Untuk menjalankan bisnis ini, ia hanya merogoh modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak sedangkan bahannya berasal dari penjual es dawet tadi.
"Awal awal berjalan perjuangannya berat, kami jualan di kampus keliling-keliling kampung. Namun untungnya kami tidak pernah menyerah," katanya.
Sesuai berjalannya waktu, setelah satu tahun Citra dan suami menghentikan kemitraan. Semenjak itu, ia mulai membuat bahan baku sendiri pasca tak bermitra lagi.
"Dawet ini sendiri kami namai 'Dawet Cah Mbanjar' karena kami menggunakan gula kelapa yang langsung kami ambil dari Banjar. Kami pernah pakai gula yang lain tapi hasilnya tidak sebagus gula Banjar," katanya.
Menjalankan bisnis Es Dawet, bukan tanpa masalah dan berbagai kendala. Kendala lainnya susah cari orang yang mau kerja untuk mendorong gerobak dorong. "Hingga saat ini kami masih belum ada outlet kami masih mengandalkan gerobak dorong sebagai andalan," ungkapnya.
Kendala berikutnya adalah gula kelapa yang harganya naik terus apalagi kalau musim hujan. Karena petani tidak bsa menyadap getah kelapa jdnya harga gula melonjak karna persediaa terbatas.
Citra juga mengatakan kendala lainnya adalah soal cuaca hujan, karena jika hujan maka produknya tidak laku dan bahan-bahan tadi harus dibuang. Namun menurutnya hal itu jadi kelebihan dari dawet buatannya karena tanpa pengawet.
Selain itu es dawetnya harus menggunakan gula kelapa dari Banjarnegara, Jawa Tengah karena sudah menjadi ciri khas Dawet Mbanjar. Ia dan suaminya bukanlah orang Banjarnegara, melainkan orang Medan.
"Saat ini omzet kami per bulan mencapai Rp 15-20 juta per bulan. Tapi kalau libur dan cuaca panas bisa lebih dari itu. Untuk jumlah gerobak saat ini sudah ada sekitar 20-an beserta dengan pekerjanya," katanya.
Via
http://m.detik.com/finance/read/2014/01/17/145601/2470321/480/